Sabtu, 28 Februari 2026

Hak Yang Bernama Tidak

Untukmu, laki-laki—
jangan kira penolakan adalah runtuhnya semesta.
Ia bukan gempa yang meremukkan harga dirimu,
bukan badai yang mencabut akar keberanianmu,
dan bukan pula palu yang memecah namamu
di hadapan dunia yang fana.
Ia hanya sebuah kata yang tenang,
jatuh perlahan seperti daun yang tahu kapan harus lepas,
sebuah batas yang dijaga tanpa amarah,
sebuah jarak yang dipilih tanpa benci.
Karena tidak semua yang kau inginkan
ditakdirkan untuk menetap di sisimu.
Maka belajarlah melihat “tidak”
bukan sebagai luka,
melainkan arah yang menghindarkanmu
dari memaksa yang tak ingin tinggal.
Sebab harga dirimu tak pernah ditentukan
oleh siapa yang memilih pergi.
Dan ingatlah—
di setiap “tidak” yang diucapkan,
ada hak yang utuh,
ada kehormatan yang dijaga,
ada diri yang memilih tetap merdeka.

Jumat, 27 Februari 2026

Jejak yang Tak Diakui

Ia pernah menaruh namaku di sela-sela harinya, seperti doa yang diucap lirih agar tak hilang arah. Aku tumbuh di dalam keyakinannya, percaya bahwa langkah kami menuju tempat yang sama. Namun diam-diam, ia menyebut nama lain di hadapan keluarganya memperkenalkan seseorang yang bukan aku, dengan cara yang dulu pernah ia janjikan kepadaku. Mereka menyambutnya dengan hangat, seolah tak pernah ada kisah yang lebih dulu berakar. Sementara aku tertinggal di batas yang tak terlihat, memeluk sunyi yang tak diberi penjelasan, menunggu sesuatu yang bahkan tak lagi ia ingat untuk ditinggalkan sebuah maaf yang sederhana, namun tak pernah benar-benar ia punya keberanian untuk mengucapkannya.
Dan yang paling dalam melukai bukanlah kepergiannya, melainkan caranya menghapusku tanpa jejak, seolah aku hanya bayangan yang keliru pernah menetap di hidupnya. Ia melangkah dengan tenang di dunia yang baru, tanpa menoleh pada reruntuhan yang ia tinggalkan di dadaku. Aku belajar memunguti sisa-sisa yang tak diakui sebagai luka, merangkainya kembali menjadi keheningan yang lebih jujur daripada janji mana pun yang pernah ia ucapkan. Hingga akhirnya aku paham, bahwa tidak semua yang pernah terasa abadi, benar-benar diciptakan untuk tinggal sebagian hanya datang untuk mengajarkan, betapa perpisahan pun bisa terjadi tanpa kata.

Kau yang tinggal di kalimatku

Setelah kamu kembali berkelana—menjajaki hati seseorang yang bukan aku lagi—aku masih mengukir segalamu dalam setiap aksaraku. Tanganku seolah hafal arah, selalu kembali padamu, pada kenangan yang tak pernah benar-benar selesai. Kau tetap menjadi subjek di antara bait bahagia dan luka, seolah tak ada tokoh lain yang mampu menggantikan peranmu.
Aku menulismu sebagai cahaya, lalu sebagai hujan. Kadang sebagai rumah yang hangat, kadang sebagai reruntuhan yang tak sempat kubenahi. Anehnya, meski kau tak lagi di sisiku, kau masih tinggal di kalimat-kalimatku.
Dan diam-diam, namamu tetap kulangitkan sepenuh hati. Bukan untuk meminta kembali, hanya untuk mengakui bahwa kita pernah sungguh. Meski cerita kemarin dipenuhi kehancuran—entah hatimu, entah aku yang lebih dulu runtuh—aku masih menyimpannya sebagai bagian yang tak pernah benar-benar usai.

Kamis, 26 Februari 2026

Review Buku Kiss That Frog

Title: Kiss That Frog
Authors: Brian Tracy & Christina Tracy Stein

Chapter 1 Summary: You Have the Power to Change Your Life

Chapter 1 introduces the main idea that every person has the ability to change their life by changing the way they think. The authors explain that many people feel stuck because they believe their situation cannot be changed. However, this belief is often the biggest obstacle to success.
The chapter emphasizes the importance of taking full responsibility for one’s life. Instead of blaming others, circumstances, or the past, individuals are encouraged to focus on what they can control. According to the authors, our thoughts shape our emotions, actions, and results.

One important concept introduced in this chapter is that negative thinking can hold people back from reaching their full potential. These negative thoughts are described as “frogs” that need to be “kissed,” meaning they must be faced, understood, and transformed into something positive.

The authors also highlight that change begins with awareness. When people recognize their negative patterns, they can start replacing them with positive and empowering thoughts. This process helps individuals build confidence, motivation, and a clearer direction in life.

Lessons Learned
From this chapter, I learned several important lessons:
1.We have control over our thoughts –
2.Our mindset determines our success or failure.
3.Taking responsibility is essential 
4. Blaming others will not improve our situation.
4.Negative thinking limits potential 
5. It prevents us from growing and achieving goals.
6.Change starts from awareness 
7. Recognizing our thoughts is the first step to improvement.
8.Every problem can become an opportunity 
9. If we face it with the right mindset.

What I Will Do Based on This Chapter
After reading this chapter, I will try to apply the ideas in my daily life. I will:
1.Take responsibility for my thoughts and actions
2.Avoid blaming others or circumstances
3.Practice positive thinking every day
4.Face my fears and challenges with a better mindset
5.Turn negative situations into opportunities for growth

I believe that by changing the way I think, I can improve my life and achieve my goals more effectively.

AKU, KAMU DAN LUKA YANG KITA BIASAKAN

Aku, Kamu, dan Luka yang Kita Biasakan

Kadang, yang paling menyakitkan bukanlah luka itu sendiri, tetapi bagaimana kita mulai terbiasa dengannya.
Aku dan kamu pernah menjadi sesuatu yang indah. Kita tertawa, berbagi cerita, dan saling merasa cukup. Tapi perlahan, tanpa kita sadari, hubungan ini berubah. Kata-kata yang dulu hangat kini terasa dingin. Perhatian yang dulu tulus kini terasa seperti kewajiban.
Namun anehnya, kita tetap bertahan.
Bukan karena semuanya masih baik-baik saja, tetapi karena kita sudah terlalu terbiasa. Terbiasa dengan rasa kecewa, terbiasa dengan diam yang menyakitkan, dan terbiasa dengan harapan yang terus dipatahkan.
Di sinilah kita terjebak—bukan hanya dalam hubungan yang toxic, tetapi juga dalam zona nyaman yang salah. Kita memilih bertahan bukan karena bahagia, tetapi karena takut kehilangan. Takut sendiri. Takut memulai dari awal.
Kita meyakinkan diri bahwa semuanya akan membaik, padahal jauh di dalam hati, kita tahu bahwa kita hanya sedang menunda akhir.
Luka itu tidak lagi terasa asing. Justru menjadi bagian dari keseharian. Dan tanpa sadar, kita mulai menerima hal-hal yang seharusnya tidak kita terima.
Sampai akhirnya kita lupa satu hal penting:
bahwa kita layak untuk bahagia, tanpa harus merasa terluka.
Mungkin, melepaskan bukan berarti kalah.
Mungkin, pergi bukan berarti menyerah.
Bisa jadi, itu adalah cara kita menyelamatkan diri.
Karena pada akhirnya, cinta seharusnya tidak membuat kita kehilangan diri sendiri.

When Friends Grow Apart: Lessons from The Let Them Theory

BOOK REVIEW I. Book Identity The book that I reviewed is The Let Them Theory . It was written by Mel Robbins and published by ...