Hak Yang Bernama Tidak

Untukmu, laki-laki—
jangan kira penolakan adalah runtuhnya semesta.
Ia bukan gempa yang meremukkan harga dirimu,
bukan badai yang mencabut akar keberanianmu,
dan bukan pula palu yang memecah namamu
di hadapan dunia yang fana.
Ia hanya sebuah kata yang tenang,
jatuh perlahan seperti daun yang tahu kapan harus lepas,
sebuah batas yang dijaga tanpa amarah,
sebuah jarak yang dipilih tanpa benci.
Karena tidak semua yang kau inginkan
ditakdirkan untuk menetap di sisimu.
Maka belajarlah melihat “tidak”
bukan sebagai luka,
melainkan arah yang menghindarkanmu
dari memaksa yang tak ingin tinggal.
Sebab harga dirimu tak pernah ditentukan
oleh siapa yang memilih pergi.
Dan ingatlah—
di setiap “tidak” yang diucapkan,
ada hak yang utuh,
ada kehormatan yang dijaga,
ada diri yang memilih tetap merdeka.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berakhir disini

Jejak yang memudar

Kau yang tinggal di kalimatku