Kau yang tinggal di kalimatku
Setelah kamu kembali berkelana—menjajaki hati seseorang yang bukan aku lagi—aku masih mengukir segalamu dalam setiap aksaraku. Tanganku seolah hafal arah, selalu kembali padamu, pada kenangan yang tak pernah benar-benar selesai. Kau tetap menjadi subjek di antara bait bahagia dan luka, seolah tak ada tokoh lain yang mampu menggantikan peranmu.
Aku menulismu sebagai cahaya, lalu sebagai hujan. Kadang sebagai rumah yang hangat, kadang sebagai reruntuhan yang tak sempat kubenahi. Anehnya, meski kau tak lagi di sisiku, kau masih tinggal di kalimat-kalimatku.
Dan diam-diam, namamu tetap kulangitkan sepenuh hati. Bukan untuk meminta kembali, hanya untuk mengakui bahwa kita pernah sungguh. Meski cerita kemarin dipenuhi kehancuran—entah hatimu, entah aku yang lebih dulu runtuh—aku masih menyimpannya sebagai bagian yang tak pernah benar-benar usai.
Komentar
Posting Komentar