Berakhir disini



Di ujung langkah yang dulu kita yakini,
aku berdiri sendiri
menggenggam sisa hangat
yang perlahan berubah menjadi dingin,
di antara kenangan
yang tak lagi menemukan jalan pulang.

Kita pernah menjadi kisah
ditulis oleh tawa, dirajut oleh harapan,
tentang esok yang kita sebut rumah,
dan mimpi yang kita jaga
seolah dunia hanya milik berdua.

Namun waktu, diam-diam,
adalah pemisah paling setia
ia merenggut tanpa suara,
mengikis keyakinan yang pernah utuh.
“Selamanya” yang dulu kita ucapkan,
kini hanya gema
yang tersesat tanpa arah.

Aku memanggil namamu
di lorong ingatan yang mulai runtuh,
tapi yang kembali hanya sunyi
dan bayang langkahmu
yang semakin menjauh dari jangkauanku.
Jika cinta pernah tinggal di sini,
biarlah ia menjadi kenangan terakhir
yang kupeluk dengan utuh,
meski tak pernah benar-benar kumiliki.
Hari ini aku belajar merelakan—
bahwa tidak semua yang diperjuangkan
ditakdirkan untuk bertahan.

Dan dengan hati yang retak namun jujur,
aku akhirnya mengerti satu hal:
kisah kita…
memang ditulis
untuk berakhir di sini. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jejak yang memudar

Kau yang tinggal di kalimatku