Jejak yang Tak Diakui
Ia pernah menaruh namaku di sela-sela harinya, seperti doa yang diucap lirih agar tak hilang arah. Aku tumbuh di dalam keyakinannya, percaya bahwa langkah kami menuju tempat yang sama. Namun diam-diam, ia menyebut nama lain di hadapan keluarganya memperkenalkan seseorang yang bukan aku, dengan cara yang dulu pernah ia janjikan kepadaku. Mereka menyambutnya dengan hangat, seolah tak pernah ada kisah yang lebih dulu berakar. Sementara aku tertinggal di batas yang tak terlihat, memeluk sunyi yang tak diberi penjelasan, menunggu sesuatu yang bahkan tak lagi ia ingat untuk ditinggalkan sebuah maaf yang sederhana, namun tak pernah benar-benar ia punya keberanian untuk mengucapkannya.
Dan yang paling dalam melukai bukanlah kepergiannya, melainkan caranya menghapusku tanpa jejak, seolah aku hanya bayangan yang keliru pernah menetap di hidupnya. Ia melangkah dengan tenang di dunia yang baru, tanpa menoleh pada reruntuhan yang ia tinggalkan di dadaku. Aku belajar memunguti sisa-sisa yang tak diakui sebagai luka, merangkainya kembali menjadi keheningan yang lebih jujur daripada janji mana pun yang pernah ia ucapkan. Hingga akhirnya aku paham, bahwa tidak semua yang pernah terasa abadi, benar-benar diciptakan untuk tinggal sebagian hanya datang untuk mengajarkan, betapa perpisahan pun bisa terjadi tanpa kata.
Komentar
Posting Komentar