AKU, KAMU DAN LUKA YANG KITA BIASAKAN

Aku, Kamu, dan Luka yang Kita Biasakan

Kadang, yang paling menyakitkan bukanlah luka itu sendiri, tetapi bagaimana kita mulai terbiasa dengannya.
Aku dan kamu pernah menjadi sesuatu yang indah. Kita tertawa, berbagi cerita, dan saling merasa cukup. Tapi perlahan, tanpa kita sadari, hubungan ini berubah. Kata-kata yang dulu hangat kini terasa dingin. Perhatian yang dulu tulus kini terasa seperti kewajiban.
Namun anehnya, kita tetap bertahan.
Bukan karena semuanya masih baik-baik saja, tetapi karena kita sudah terlalu terbiasa. Terbiasa dengan rasa kecewa, terbiasa dengan diam yang menyakitkan, dan terbiasa dengan harapan yang terus dipatahkan.
Di sinilah kita terjebak—bukan hanya dalam hubungan yang toxic, tetapi juga dalam zona nyaman yang salah. Kita memilih bertahan bukan karena bahagia, tetapi karena takut kehilangan. Takut sendiri. Takut memulai dari awal.
Kita meyakinkan diri bahwa semuanya akan membaik, padahal jauh di dalam hati, kita tahu bahwa kita hanya sedang menunda akhir.
Luka itu tidak lagi terasa asing. Justru menjadi bagian dari keseharian. Dan tanpa sadar, kita mulai menerima hal-hal yang seharusnya tidak kita terima.
Sampai akhirnya kita lupa satu hal penting:
bahwa kita layak untuk bahagia, tanpa harus merasa terluka.
Mungkin, melepaskan bukan berarti kalah.
Mungkin, pergi bukan berarti menyerah.
Bisa jadi, itu adalah cara kita menyelamatkan diri.
Karena pada akhirnya, cinta seharusnya tidak membuat kita kehilangan diri sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berakhir disini

Jejak yang memudar

Kau yang tinggal di kalimatku