Ada orang yang pergi membawa dirinya, dan ada yang pergi sambil membawa sebagian rumah dalam hati kita.
Aku melihatmu melangkah seperti musim yang tahu kapan harus berganti. Sementara aku masih menjadi langit yang enggan melepaskan senjanya. Kau menemukan pagi-pagi baru, sedangkan aku masih sibuk merapikan reruntuhan kenangan yang kau tinggalkan di sudut-sudut pikiranku.
Bukan kepergianmu yang membuatku terluka, melainkan kenyataan bahwa kau baik-baik saja tanpaku. Bahwa namaku perlahan menghilang dari doamu, sementara namamu masih tinggal di setiap sunyi yang kutemui.
Barangkali memang begini cara semesta mengajarkan kehilangan: satu hati belajar melupakan, sementara hati yang lain belajar bertahan. Dan aku adalah yang kedua—menjaga kenangan seperti menjaga nyala lilin di tengah angin, tahu ia akan padam, tetapi tetap menggenggamnya sampai cahaya terakhir.
Jika suatu hari kita bertemu lagi, aku tidak ingin bertanya mengapa kau pergi. Aku hanya ingin berterima kasih. Sebab darimu aku belajar bahwa tidak semua yang dicintai ditakdirkan untuk dimiliki; ada yang hanya singgah, mengajarkan arti rindu, lalu menjelma menjadi cerita yang hidup paling lama di dalam hati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar