Menetap di Sisa Kita




Aku tidak berhenti...
hanya waktulah yang mendadak berlari terlalu jauh,
sejak punggungmu memilih menjauh
tanpa pernah menyisakan arah untukku pulang.
Di kota dengan udara yang menggigilkan kenangan,
angin menjadi pembawa kabar yang tak pernah selesai,
menyusup ke celah-celah sunyi,
membisikkan kembali suaramu
yang kini asing di telingaku sendiri.

Kita masih berada di bawah langit yang sama,
menapaki hari-hari yang nyaris bersinggungan,
namun seperti dua garis yang ditakdirkan lupa bertemu, kita menjelma jarak
di tempat yang pernah kita sebut rumah.

Aku tidak mengejarmu.
Aku hanya tinggal
di koordinat terakhir
di mana “kita” belum kehilangan nama.

Seperti lagu lama yang menolak usai,
aku memutar ulangmu dalam diam,
hingga semesta mungkin jenuh
melihat seseorang bertahan pada yang telah selesai, lalu, dengan cara yang tak terduga,
mengembalikanmuatau setidaknya,
mengembalikan aku yang pernah utuh bersamamu.

Orang-orang percaya waktu mampu menggeser segalanya,
namun ada yang justru mengendap lebih dalam
ketika dibiarkan tenggelam sendirian.
Dan bila suatu hari
langkahmu kembali melewati titik ini—
tanpa ragu, tanpa sisa tanya
kau akan menemukan aku masih di sini:
bukan sebagai yang gagal melangkah,
melainkan sebagai seseorang
yang pernah meyakini sepenuh hati
bahwa cinta…


tak selalu harus bergerak
untuk tetap hidup.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berakhir disini

Jejak yang memudar

Kau yang tinggal di kalimatku